Loading
AIMAS – Penanganan malaria di Kabupaten Sorong masih membutuhkan perhatian serius. Sejumlah wilayah tercatat memiliki angka kasus cukup tinggi, sehingga diperlukan langkah yang lebih terarah agar penularan penyakit tersebut bisa ditekan.
Persoalan ini menjadi salah satu pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya yang berlangsung di Kantor Bapperida Kabupaten Sorong, Senin (2/11/2026).
Ketua Tim Ekspedisi Universitas Brawijaya, Prof. Dr. dr. Loeki Enggar Fitri, M.Kes., Sp.Par.K., mengatakan timnya telah melakukan kajian dan pendampingan selama tiga bulan di Kabupaten Sorong. Dari hasil kegiatan tersebut, tim menyusun sejumlah rekomendasi untuk disampaikan kepada Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah.
Menurut Loeki, penanganan malaria di Kabupaten Sorong secara umum sudah berjalan cukup baik. Namun, masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi, terutama karena kasus penularan cenderung terkonsentrasi di sejumlah wilayah.
"Intervensi harus lebih terarah pada kampung-kampung dengan angka kasus tinggi. Penemuan kasus juga perlu dilakukan secara aktif, baik terhadap masyarakat yang menunjukkan gejala maupun yang tidak menunjukkan gejala," jelasnya.
Ada enam hal yang menjadi perhatian tim, mulai dari penguatan surveillance berbasis risiko, intervensi pada wilayah dengan kasus tinggi, peningkatan layanan diagnosis dan pengobatan, jaminan ketersediaan obat dan alat pemeriksaan, pengendalian nyamuk, hingga penguatan kebijakan dan pembiayaan pemerintah daerah.
Loeki juga menyoroti pentingnya kepatuhan masyarakat dalam menjalani pengobatan. Khusus untuk malaria Plasmodium vivax, pasien harus menyelesaikan pengobatan selama 14 hari. Karena itu, pendampingan oleh tenaga kesehatan dan kader malaria dinilai penting agar pengobatan tidak terhenti di tengah jalan.
Selain pengobatan, upaya pencegahan juga perlu diperkuat melalui pembagian kelambu berinsektisida, penyemprotan pada wilayah berisiko, serta pengelolaan lingkungan permukiman. Edukasi menggunakan bahasa lokal juga menjadi perhatian agar masyarakat lebih memahami bahaya malaria dan pentingnya melakukan pemeriksaan.
Wakil Bupati Kabupaten Sorong, H. Ahmad Sutejo, S.Pd., menyambut baik hasil kajian dan rekomendasi yang disampaikan Tim Ekspedisi Patriot. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya konkret untuk mencari solusi terhadap meningkatnya kasus malaria di daerah.
Ia menyebutkan, berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, tercatat sebanyak 1.327 kasus malaria dengan konsentrasi kasus di wilayah Malawili dan Mariat.
Sutejo berharap hasil kajian tersebut tidak hanya berhenti sebagai rekomendasi, tetapi benar-benar ditindaklanjuti oleh dinas terkait melalui program dan langkah penanganan di lapangan.
"Ini adalah hasil penelitian yang konkret. Mudah-mudahan rekomendasi yang disampaikan bisa dilaksanakan oleh dinas terkait sehingga upaya eliminasi malaria dapat berjalan sesuai target nasional tahun 2030," ujarnya.
Tak hanya membahas malaria, Sutejo juga mengapresiasi program pemanenan air hujan yang telah dilakukan Tim Ekspedisi Patriot di kawasan transmigrasi Kabupaten Sorong.
Program tersebut menyasar persoalan keterbatasan air bersih yang masih dirasakan masyarakat di sejumlah kawasan transmigrasi. Melalui sarana penampungan dan penyaringan air hujan, masyarakat diharapkan memiliki alternatif sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sorong, Ngatijo, S.Sos., menilai kehadiran Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya membawa dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam mendorong pengembangan potensi kawasan transmigrasi.
Ia menjelaskan, sekitar 120 personel yang tergabung dalam 20 kelompok telah ditempatkan untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Berbagai inovasi yang dibawa mencakup sektor pertanian, kesehatan, peternakan, hingga bidang lainnya.
Menurut Ngatijo, keberadaan tim tersebut membantu masyarakat memperoleh pengetahuan dan pendekatan baru dalam mengembangkan potensi ekonomi di lingkungan mereka.
Pemerintah Kabupaten Sorong pun berharap program tersebut dapat terus berlanjut. Bahkan, permohonan perpanjangan masa penugasan Tim Ekspedisi Patriot telah disampaikan kepada Kementerian Transmigrasi melalui pemerintah daerah.
Jika belum dapat diperpanjang pada tahun ini, pihaknya berharap penempatan tim serupa bisa kembali dilakukan pada tahun berikutnya.
Saat ini, pendampingan difokuskan pada kawasan transmigrasi yang mencakup empat distrik, yakni Klamono, Klasafet, Malabotom, dan Mayamuk. Ke depan, program tersebut diharapkan dapat menjangkau kawasan transmigrasi lainnya di Kabupaten Sorong.
Bagi pemerintah daerah, keberadaan Tim Ekspedisi Patriot bukan hanya soal pendampingan program, tetapi juga bagaimana hasil kajian dan inovasi yang dibawa perguruan tinggi bisa diterapkan langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Mulai dari penanganan malaria, pemenuhan kebutuhan air bersih, hingga pengembangan ekonomi masyarakat, seluruh upaya tersebut diharapkan memberi manfaat yang berkelanjutan bagi Kabupaten Sorong.