Dua Tahun Prabowo: Menjaga Optimisme, Menjawab Kegelisahan


  • 16 
  • Thursday, 29 October 2026 
  • Azril

Dua Tahun Prabowo: Menjaga Optimisme, Menjawab Kegelisahan

Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berlangsung di tengah dunia yang tidak tenang. Konflik geopolitik, persaingan dagang, perubahan kebijakan negara-negara besar, dan gejolak pasar keuangan menghadirkan tantangan yang tidak ringan bagi Indonesia.

Di tengah keadaan itu, perekonomian nasional masih tumbuh. Kegiatan usaha tetap bergerak, investasi mengalir, dan berbagai program pemerintah dijalankan untuk memperkuat fondasi ekonomi.
Namun, kegelisahan masyarakat belum sepenuhnya hilang. Banyak keluarga masih mencermati harga kebutuhan sehari-hari. Pelaku
usaha berhitung menghadapi biaya produksi. Anak-anak muda berharap memperoleh
pekerjaan dan penghasilan yang memberi kepastian masa depan.

Optimisme dan kegelisahan dapat hadir bersamaan. Angka pertumbuhan memberi alasan untuk percaya diri, sementara pengalaman masyarakat mengingatkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Tugas pemerintahan pada tahun-tahun berikutnya adalah menjaga keduanya tetap terhubung: merawat optimisme ekonomi nasional sekaligus menjawab kegelisahan rumah tangga.

Modal untuk optimistis
 

Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas ekonomi domestik menjadi penopang di tengah ketidakpastian global. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada pada kisaran 4,9–5,7 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan sekitar 3 persen. Indonesia memiliki daya tahan yang patut dijaga.

Pemerintah juga menggerakkan program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis, penguatan ketahanan pangan, koperasi desa, penghiliran, serta investasi melalui Danantara. Program-program ini menyentuh persoalan mendasar: kualitas manusia, ketersediaan pangan, ekonomi lokal, dan penciptaan nilai tambah.

Tantangannya adalah memastikan setiap program menghadirkan hasil yang terukur. Anak-anak memperoleh makanan bergizi secara berkelanjutan, petani mendapat pasar dan harga yang layak, usaha kecil memiliki kesempatan berkembang, serta investasi menciptakan pekerjaan berkualitas.

Badai global belum reda

Optimisme perlu dirawat dengan kewaspadaan. Badai global yang membayangi Indonesia bukan satu gelombang tunggal. Gejolak geopolitik, harga energi, persaingan perdagangan, perubahan suku bunga, dan cuaca ekstrem dapat datang bersamaan serta saling memperkuat.

Konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan dan jalur pengiriman energi. Jika harga minyak naik dan bertahan tinggi, biaya impor energi Indonesia dapat meningkat. Pemerintah pun menghadapi pilihan sulit: menambah beban subsidi dan kompensasi, atau menghadapi kemungkinan kenaikan biaya energi yang dirasakan masyarakat dan dunia usaha.

Dampaknya dapat menjalar ke biaya transportasi, produksi, dan distribusi pangan. Pelaku UMKM yang menggunakan bahan bakar atau bahan baku impor menghadapi tekanan pada keuntungan. Sebagian kenaikan biaya akhirnya dapat berpindah ke harga barang yang dibeli keluarga.

Gelombang lain datang dari pasar keuangan.

Jika suku bunga global tetap tinggi atau ketidakpastian meningkat, investor
dapat mencari aset yang dianggap lebih aman. Aliran dana keluar berpotensi
menekan rupiah dan pasar keuangan domestik.

Rupiah yang melemah dapat membuat bahan baku, mesin, dan barang impor lebih mahal. Perusahaan yang memiliki kewajiban dalam valuta asing juga menghadapi tambahan beban. Dampaknya perlahan dapat terasa melalui harga barang, biaya usaha, dan kesempatan kerja.

Pada Oktober 2026, pasar saham Indonesia mengalami gejolak setelah MSCI menyampaikan kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi
standalone market. Usulan tersebut masih merupakan risiko, bukan keputusan akhir. Penanganannya memerlukan perbaikan tata kelola pasar dan komunikasi terbuka agar kepercayaan investor terjaga.

Persaingan dagang global juga dapat mengubah arah permintaan dan rantai pasok. Jika ekonomi mitra melambat atau hambatan perdagangan meningkat, ekspor Indonesia dapat tertekan. Industri mungkin menahan ekspansi atau menunda perekrutan.

Pada saat yang sama, cuaca ekstrem dapat mengganggu panen dan distribusi pangan. Apabila guncangan pangan, energi, dan nilai tukar terjadi berdekatan, tekanan harga dapat menjadi lebih berat, terutama bagi keluarga yang sebagian besar penghasilannya digunakan untuk kebutuhan pokok.

Risiko-risiko tersebut bukan ramalan bahwa semuanya pasti terjadi. Namun, kesiapan diperlukan karena dampaknya saling berkaitan. Badai yang bermula jauh dari Indonesia dapat berakhir di pasar, tempat kerja, dan meja makan masyarakat.

Mendengar kegelisahan masyarakat

Bagi pengambil kebijakan, pertumbuhan dan inflasi merupakan indikator penting. Bagi masyarakat, keadaan ekonomi lebih sering dinilai melalui pertanyaan sederhana: apakah pendapatan cukup sampai akhir bulan?

Inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan dan masih berada dalam rentang sasaran nasional. Namun, inflasi yang terkendali tidak berarti seluruh harga turun. Sejumlah kebutuhan tetap dapat mengalami kenaikan, sementara kemampuan keluarga untuk mengikutinya berbeda-beda.
Karena itu, penjelasan mengenai inflasi perlu disertai langkah nyata menjaga pasokan pangan, memperlancar distribusi, dan mengurangi biaya logistik.

Menyiapkan perlindungan, merawat harapan
Indonesia tidak dapat mengendalikan arah konflik global atau keputusan ekonomi negara lain. Akan tetapi, Indonesia dapat
memperkuat kesiapan menghadapi dampaknya.

Pada Oktober 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen untuk mendukung stabilitas rupiah dan inflasi sekaligus pertumbuhan. Kebijakan ini menunjukkan perlunya keseimbangan: stabilitas harus dipelihara, sementara kegiatan usaha dan daya beli juga memerlukan dukungan.

Pemerintah dan Bank Indonesia perlu menyiapkan respons terhadap gangguan energi, pelemahan ekspor, tekanan nilai tukar, hingga kenaikan harga pangan. Setiap kemungkinan memerlukan penanda peringatan dan langkah yang jelas.

Ketahanan pangan dan energi perlu diperkuat melalui peningkatan produksi, cadangan yang memadai, diversifikasi pasokan, dan distribusi yang efisien. Perlindungan sosial harus siap menjangkau keluarga yang paling terdampak, sementara pekerja dan dunia usaha didukung meningkatkan keterampilan serta produktivitas.

Semua itu perlu dilakukan dengan menjaga kesehatan anggaran negara. Ruang fiskal yang terpelihara memberi pemerintah kemampuan merespons guncangan sekaligus melanjutkan investasi pada pendidikan, kesehatan, dan kegiatan produktif.

Indonesia memiliki modal untuk menghadapi masa depan: pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang beragam, generasi muda, serta peluang ekonomi digital dan ekonomi hijau. Modal tersebut perlu dikelola melalui kebijakan yang konsisten, tata kelola yang baik, dan kepercayaan publik.

Kepercayaan tumbuh ketika pemerintah terbuka menyampaikan capaian, mengakui kendala, dan menjelaskan langkah perbaikan. Masyarakat tidak mengharapkan seluruh persoalan selesai seketika. Namun, mereka perlu melihat arah yang jelas dan merasakan bahwa suara mereka didengar.

Badai global mungkin belum segera reda. Namun, Indonesia mempunyai alasan untuk tetap optimistis sekaligus bersiap menghadapi kemungkinan yang lebih sulit.
Optimisme itu akan semakin kuat apabila pertumbuhan disertai harga yang terjangkau, pekerjaan yang layak, usaha yang berkembang, dan masa depan keluarga yang lebih pasti. Menjaga optimisme dan menjawab kegelisahan adalah pekerjaan yang berjalan bersama. Keduanya menjadi jalan agar daya tahan ekonomi Indonesia tidak hanya tercermin dalam angka nasional, tetapi juga hadir dalam kehidupan masyarakat.